![]() |
| Ilustrasi |
Definisi panjat tebing panjat tebing atau istilah asingnya
dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olah raga
alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa
dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan
teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing
dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan
mencapai lebih dari 45o dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. Pada
dasarnya olah raga panjat tebing adalah suatu olah raga yang mengutamakan
kelenturan, kekuatan / daya tahan tubuh, kecerdikan, kerja sama team serta
ketrampilan dan pengalaman setiap individu untuk menyiasati tebing itu sendiri.
Dalam menambah ketinggian dengan memanfaatkan cacat batuan maupun rekahan /
celah yang terdapat ditebing tersebut serta pemanfaatan peralatan yang efektif
dan efisien untuk mencapai puncak pemanjatan Pada awalnya panjat tebing
merupakan olah raga yang bersifat petualangan murni dan sedikit sekali memiliki
peraturan yang jelas, seiring dengan berkembangnya olah raga itu sendiri dari
waktu kewaktu telah ada bentuk dan standart baku dalam aktifitas dalam panjat
tebing yang diikuti oleh penggiat panjat tebing. Banyaknya tuntutan tentang
perkembangan olah raga ini memberi alternatif yang lain dari unsur petualangan
itu sendiri. Dengan lebih mengedepankan unsur olah raga murni (sport)
Sejarah Panjat Tebing
Panjat tebing sudah dikenal sejak sebelum zaman PD I,
terutama oleh kalangan militer Namun dalam perkembangannya kegiatan ini menjadi
digemari masyarakat umum.
• Sejarah Panjat Tebing Dunia
- 1910 Kegiatan panjat tebing mulai dikenal pertama kali di kawasan Eropa, tepatnya di pegunungan Alpen, sebelum PD I di Austria., Teknik pemanjatan tebing dengan menggunakan tali baru dikenal pada tahun 1920. Tahun 1930 adalah tahun keemasan pemanjatan di kawasan Alpen. Mulai daritebing kecil, menengah hingga puncak -puncak tertinggi. Klimaksnya pada saat PD II meletus. PD menyebabkan frekuensi pemanjatan menurun, akan tetapi setelah PD berakhir membawa pengaruh pesat pada penciptaan dan pengadaan peralatan panjat tebing yang semakin mudah didapatkan.
- 1970 Panjat Tebing , ketika para pemanjat Amerika
mengembangkan teknik-teknik baru di kawasan Yosemite. Teknik-teknik ini sampai saat ini masih digunakan dalam pemanjatan
tebing-tebing besar. Rata – rata yang mendomisili pengembangan dunia olahraga
ini adalah pemanjat Amerika dan Inggris yang kemudian menggunakan sistem dan
teknik yang sama, yang sebelumnya terkotak kotak menurut negaranya masing
masing. Selain itu juga turut berperan dalam pengembangan kegiatan ini adalah
negara Perancis yang menawarkan teknik pemanjatan yang mengarah pada olahraga
murni.
- 1980 perkembangan panjat tebing semakin meluas mulai dari
Eropa, Amerika hingga Asia. Sehingga membuatnya terlepas dari induknya (mendaki
gunung) dan membentuk wujudnya sendiri yaitu olah raga panjat tebing.
• Sejarah Panjat Tebing Indonesia
- 1960 Di Indonesia panjat tebing dikenal sejak tahun 60`an
dimana berdiri beberapa perkumpulan/ kelompok Pecinta Alam Universitas Indonesia
dan Wanadri yang mempunyai akar kegiatan mendaki gunung.
- 1975 kegiatan panjat tebing secara utuh dan tersendiri .
Waktu itu beberapa orang yang sekarang dikenal sebagai tonggak kebangkitan Panjat Tebing Indonesia antara lain Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu dan Deddy Hikmat mulai latihan di tebing Citatah, Jawa Barat.
Waktu itu beberapa orang yang sekarang dikenal sebagai tonggak kebangkitan Panjat Tebing Indonesia antara lain Harry Suliztiarto, Agus Resmonohadi, Heri Hermanu dan Deddy Hikmat mulai latihan di tebing Citatah, Jawa Barat.
- 1988 kantor Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga
bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) mengundang 3pemanjat
profesional Perancis yaitu; Patrick Bernhault, Jean Baptise Tribout dan Corrine
Lebrune serta seorang instruktur Teknis Panjat Tebing Jean Harau yang kemudian
memunculkan inspirasi untuk mendirikan FGTI
- 1989FEDERASI PANJAT TEBING GUNUNGINDONESIA (FPTGI) dan
melalui ikrar yang dikeluarkan oleh sekitar40`an orang dari perkumpulan PA yang
ada di Jakarta, Bandung, Padang, Medan, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan
Ujung Pandang di Tugu Monas tanggal 21 April 1988.
- 1992FPTGI kemudian berubah nama hanya menjadi Federasi
Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dan FPTI diakui menjadi anggota Union
Internationale des Assosiations d`Alpinisme (UIAA) yang mewadahi organisasi
panjat tebing dan gunung internasional. UIIA merupakan organisasi olahraga
dunia yangbertaggung jawab pada semua kegiatan olahraga dunia termasuk
Olimpiade.
- 1994 secara resmi FPTI diakui sebagai induk olahraga
panjat tebing oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia)
- 1996 Sejak itu Olahraga Panjat Tebing diikutkan dalam PON
Sistem Pemanjatan System pemanjatan dibagi menjadi dua :
* Himalayan system Pemanjatan system Himalayan ini adalah
pemanjatan yang dilakukan dengan cara terhubungnya antara titik start (ground)
dengan pitch / terminal terakhir pemanjatan, hubungan antara titik start dengan
pitch adalah menggunakan tali transport, dimana tali tersebut adalah berfungsi
supaya hubungan antara team pemanjat dengan team yang dibawah dapat terus
berlangsung tali transport ini berfungsi juga sebagai lintasan pergantian team
pemanjat juga sebagai jlur suplai peralatan ataupun yang lainnya
* Alpen system Lain halnya dengan system diatas, jadi antara
titik start dengan pitch terakhir sama sekali tidak terhubung dengan tali
transpot, sehingga jalur pemanjatan adalah sebagai jalur perjalanan yang tidak
akan dilewati kembali oleh team yang dibawah. Maka pemanjatan dengan system ini
benar-benar harus matang perencanaanya karena semua kebutuhan yang mendukung
dalam pemanjatan tersubut harus dibawa pada saat itu juga.
Dilihat dari bentuk penggunaan peralatan panjat tebing
terbagi menjadi 2 kelompok besar :
* Artificial climbing : Merupakan pemanjatan yang mana
didalam pergerakannya sepenuhnya didukung oleh alat dan pemanjat tidak bisa
berbuat apa-apa tanpa bantuan alat tersebut. Peralatan selain sebagai pengaman
juga sebagai tumpuan untuk menambah ketinggian dalam melakukan pemanjatan
tersebut. Perlu diingat bahwasannya untuk dapat bergerak cepat dan aman dalam
melakukan pemanjatan bukan disebabkan karena adanya peralatan yang super modern
melainkan lebih diutamakan pada penggunaan teknik yang baik.
* Free climbing : Adalah pemenajatn yang mengunakan alat
hanya semata-mata untuk menambah ketinggian dan alat berfungsi sebagai pengaman
saja tetapi tidak mempengaruhi gerak dari pemanjat. Walaupun dalam pemanjatan
tipe ini pemanjat diamankan oleh seorang belayer namun pengaman yang baik
adalah diri sendiri.
Sedangkan untuk pengembangan dari jenis pemanjatan free
climbing itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu :
- Top rope : pemanjatan dimana tali pemanjatan sudah
terpasang sebelumnya
- Solo : pemanjatan yang dilakukan seorang diri dengan
merangkap fungsi sebagai Leade, Cleaner dan Belayer.
Sedangkan solo sendiri juga dapat dibagi menjadi dua jenis
yaitu :
a. Solo artificial climbing
b. Solo free climbing
![]() |
| Peralatan Panjat Tebing |
Peralatan Panjat Tebing
Jumlah setiap peralatan yang digunakan akan dipengaruhi oleh
jumlah pemanjat, tehnik pemanjatan maupun medan pemanjatan. Macam peralatan
akan dipengaruhi oleh kesiapan pemanjat, baik kemampuan maupun antisipasinya. Berikut beberapa peralatan dasar yang digunakan untuk
memanjat tebing:
• Helm, pada pemanjatan tebing berfungsi kurang lebih sama dengan helm pada umumnya yaitu untuk melindungi kepala dari benturan.
• Climbing Shoes/ Sepatu Panjat untuk panjat tebing
maupun panjat dinding memiliki kesamaan fungsi, yaitu untuk membantu pemanjat
untuk berpijak pada permukaan vertikal, dan melindungi kaki dari tajamnya
bebatuan maupun gesekan bebatuan yang kasar.
• Chalk bag/ Kantung kapur, merupakan sebuah tas kantung
untuk menampung bubuk magnesium klorida, yang membantu pemanjat mengurangi
kelembapan pada telapak tangan ketika melakukan pemanjatan, sehingga dapat
membuat pegangan pemanjat tetap stabil.
• Sling, sangat bermanfaat pada panjat tebing maupun
panjat dinding, sling dapat digunakan sebagai runners, back up
maupun menjadi bagian pengaman lainnya. Sling dibagi menjadi dua
macam, sling prusik dan sling webbing, untuk panjang dan
diameter sling memiliki banyak variasi.
• Body harness, merupakan peralatan panjat yang
dikenakan pada tubuh. Body harness biasa digunakan untuk rescue dan flying
fox . body harness membantu penggunanya untuk tetap dalam posisi
duduk.
• Sit harnes, merupakan peralatan yang dikenakan oleh
pemanjat untuk di kenakan pada pinggang dan memiliki banyak fungsi.
seperti,mengaitkan body pemanjat pada tali pengaman. benda ini juga
merupakan tempat dimana alat-alat panjat seperti piton, sling, carabiner, chock ,
maupun peralatan lain yang dibutuhkan.
![]() |
| Tali karmantel |
• Kernmantle rope/ Tali karmantel, merupakan peralatan pengaman utama bagi pemanjat dari kejatuhan dengan jarak ketinggian tertentu. Panjang Kernmantle rope rata-rata adalah 70 meter.
• Sarung tangan, akan melindungi tangan bagi belayer ketika
mengamankan pemanjat maupun rapler dari bahaya gesekan telapak tangan
dengan tali pengaman.
• Hammer/palu, sangat dibutuhkan untuk pemasangan
pengaman buatan berupa piton pada panjat tebing, cara membawa hammer akan
lebih mudah bagi pemanjat jika tali pada hammer disilangkan pada bahu pemanjat.
• Carabiners, diciptakan untuk menggabungkan berbagai
jenis peralatan. Carabiners memiliki banyak bentuk dan variasi,
umumnya carabiners dibagi menjadi dua jenis, yaitucarabiner non screw
gate dan carabiner screw gate. Carabiners biasa dihubungkan
pada tali maupun pengaman untuk pemanjatan, carabiner sangat kuat karena sebuah
nyawa disandarkan pada carabiner ketika dilakukan suatu pemanjatan
dari bahaya jatuhnya pemanjat dari ketinggian.
• Quickdraw/ runner, merupakan gabungan antara prusik dan
dua buah carabiner. Biasanya digunakan untuk menjadi bagian penyambung
antara chocks, friends, tricams, boltsataupun pitons terhadap
tali carnmantel.
• Hand ascender, merupakan peralatan yang digunakan
untuk membantu pemanjat dalam menaiki tebing dan bertumpu pada bantuan tali,
secara otomatis hand ascender maupun jenis ascender lainnya
akan mencatut tali jika diberi beban dan akan mudah digeser jika tidak memiiki
beban.
• Ascender handle, juga merupakan jenis ascender. Ascender
handle merupakan pengembangan dari hand ascender dengan fungsi
yang dimiliki kurang lebih sama.
• Rigger plate, berfungsi sebagai plat conector dari anchor
point ke lintasan, karena dalam beberapa kasus dibutuhkan beberapa
lintasan dalam satu anchor point fix. Rigger plateterdiri dari sebuah
plat yang memiliki beberapa lubang, yang dapat ditempati oleh lebih dari 2
pengaman.
• Edge Rollers, Merupakan pelindung tali yang didesign
untuk mencegah terjadinya gesekan antara tali dengan sudut bidang, dinding
batu, dan sebagainya.
• Padding, berfungsi untuk memberi perlindungan pada
tali dari gesekan benda tajam, seperti gesekan tali dengan sudut tebing,
dinding,dll. Padding terbuat dari bahan terpal, canvas, matras, karet
tebal yang tahan terhadap gesekan.
• Cams/ friends/ spring loaded camming device (SLCD), Friends merupakan
salah satu jenis pengaman sisip yang digunakan dalam panjat tebing, anda dapat
menarik tuas baja yang membuat bagian ujung friends menyempit dan
melepaskannya pada celah yang diinginkan. Friends sangat fleksible,
karena dapat digunakan pada berbagai ukuran celah/rongga.
• Pitons, merupakan pengaman yang ditancapkan pada
rongga-rongga tebing, piton memiliki empat jenis yaitu Bongs,
Bugaboons, Knife-blades dan Angle.
• Nuts/ Chock friends merupakan jenis pengaman
sisip yang dimana cara penggunaannya dengan menyelipkan nuts pada
sebuah rekahan yang sesuai. Nuts/Chock friendsmemiliki ukuran yang
berbeda-beda untuk itu nuts biasanya tersedia dalam set.
• Hexes/ chock hexentris, memiliki fungsi yang sama
dengan nuts tetapi hexes berbentuk tabung segi enam. Hexes tetap
memiliki kekuatan yang baik walaupun agak sulit dalam penggunaannya. Hexes tersedia
dalam beberapa ukuran.
• Tricams, merupakan pengaman sisip selanjutnya.
walaupun berbeda bentuk, tetapi fungsinya sama dengan nuts dan hexes.
Pemakaiannya relatif sulit, tidak dianjurkan dipakai untuk pemula.
• Figure eight/figur delapan, peralatan ini termasuk
salah satu Descender adalah alat bantu yang digunakan untuk menuruni
medan vertical dan tali sebagai jalur. Bentuknya menyerupai angka 8,
ukuran dan bentuknya bermacam-macam, rate strange 3000 kg.,
menggunakan alat ini menyebabkan puntiran pada tali salah satu kelemahan alat
ini ketika digunakan.
• Autostop, berfungsi sebagai desender dan
ini di-design untuk pengereman automatis, system kerja pengereman automatis
akan bekerja ketika handle kita lepaskan. Selain itu alat ini dapat
juga digunakan sebagai alat belay (belay device) untuk menurunkan
korban dari ketinggian, atau dapat juga kita gunakan untuk ascending dengan
tambahan kombinasi ascender.



Saya suka mendaki gunung, sob. Tp kalo panjat tebing... nt dulu bos... atutttt... :)
BalasHapusSelama peralatannya aman dan pemandunya profesional kenapa gk dicoba aja bos. Seru juga lho.. hehe :-)
Hapus