Salam
lestari bagi para pembaca. Maaf agak terlambat rilisnya. Tanpa pikir
panjang kita lanjut di bagian ini. Bagian dimana suasana mistis
tersaji. Oh ya, jangan lupa siapkan kopi atau teh sama camilan juga,
karena akan panjang ceritanya ini. Langsung kita ke KTP eeee
TKP!!!!!! :D
Di
pos Cisentor ini ada pos dari kayu yang masih ada meskipun sudah
terlihat kusam dan banyak coretan tangan-tangan jahil. Sembari
menikmati indahnya alam, kami beristrahat memulihkan tenaga serta
mengisi perbekalan air minum kami. Botol-botol air minum terisi
penuh, perjalanan dimulai lagi. Di pos ini terdapat persimpangan jika
ke kiri akan mengantarkan kita ke puncak Rengganis, sedangkan jika
kita mengikuti jalur yang kanan kita akan sampai di pos Cikasur.
Jalur
yang menuju puncak mulai terlihat menanjak di selimuti kabut yang
mulai turun dari ketinggian. Semak belukar dan pohon-pohon tumbang
menjadi pemandangan yang sudah lazim ketika menuju puncak saat itu,
apa karena ada badai kemarin pepohonan pada tumbang? Entahlah….
Menurut
cerita rekan kami daerah ini rawan tersesat, hal ini disebabkan
karena jalan setapak banyak yang hilang dan tertutup semak-semak.
Setelah mendengar keterangan seperti itu, kami putuskan untuk
berjalan dengan jarak tidak lebih dari 2 meter. Jalan yang semakin
menanjak dan berkelok-kelok kami rasakan, rasa bosan menghampiri kami
satu per satu. Perjalanan dari Cisentor menuju puncak memerlukan
waktu kurang lebih 3 jam.
Waktu
sudah menunjukkan pukul 10.20 WIB, akhirnya kami sudah berada di Rawa
Embik. Rawa Embik adalah padang rumput yang lumayan luas,
disekitarnya ada sungai kecil yang mengalir pelan tapi pasti.
Disinilah kami berunding siapa yang berangkat ke puncak dan siapa
yang akan menjaga barang-barang. Setelah berunding akhirnya
diputuskan yang akan ke puncak Rengganis dan Argopuro adalah saya,
adik saya, bapak saya, Ahmad, Rezky dan Pandu sedangkan yang menjaga
perbekalan di Rawa Embik adalah Habibi dan Mas Mujib.
Setelah semua siap kami berenam melanjutkan perjalanan menuju puncak Rengganis dengan mengikuti jalan setapak yang kali ini terlihat lebih jelas. Setapak demi setapak kami ayunkan akhirnya kami telah sampai di jalan yang berbatu dan dikelilingi oleh tanaman Edelweiss (Javanese Edelweiss). Menurut keterangan Mas Mujib setelah melewati kebun Edelweiss ini kami akan menemukan persimpangan yang menuju ke puncak Rengganis dan puncak Argopuro. Ternyata benar adanya, persimpangan tersebut terlihat dan kami putuskan untuk menuju puncak Rengganis terlebih dahulu.
Dari
persimpangan tersebut menuju puncak Rengganis membutuhkan waktu
kurang lebih 20 menitan. Kami terus menanjak untuk mencapai puncak
itu dan akhirnya sampailah kami di puncak Rengganis. Tapi cerita
tidak berhenti disini, kami berenam sangat kaget seolah tidak percaya
apa yang telah kami lihat di depan mata kami. Puncak ini terdapat
banyak puing-puing seperti bangunan yang telah roboh, dan adanya
batu-batu yang tertata sangat rapi (sumpah ane merinding saat
menuliskan cerita ini). Kami terus melangkah untuk terus menuju
puncak yang lebih tinggi dari tempat berserakannya puing-puing tadi.
Tidak
berselang lama kami telah sampai di puncak Rengganis, puncak yang
luasnya sekitar 20 meter persegi. Dipuncak inilah kami sujud syukur
atas berhasilnya mencapai puncak Rengganis. Setelah sujud syukur kami
dikagetkan lagi oleh sebuah makam yang hanya berupa setumpuk bebatuan
tanpa ada nama yang meninggal disitu. Lazimnya ketika ada seseorang
yang meninggal akan ada nama yang meninggal tersebut.
Setelah
puas mengambil foto dan mengabadikan moment ini kami mulai turun
untuk menuju puncak yang satunya, yaitu puncak Argopuro. Ketika
sampai dipersimpangan, mendung datang lagi, hawa sekitar persimpangan
semakin aneh akhirnya kami memutuskan untuk turun lagi ke Rawa Embik
dimana dua rekan kami sedang menjaga perbekalan. Sesampainya di Rawa
Embik kami mengambil air wudhu di sungai yang mengalir di sisi tempat
yang lapang ini. Sholat Dhuhur telah selesai ditunaikan, kami
istirahat sejenak untuk makan siang.
| Puncak Rengganis |
Singkat
cerita ketika kami sedang menikmati mie rebus, Mas Mujib bercerita
tentang hal-hal yang terjadi di Rawa Embik dan Puncak Rengganis,
lagi-lagi ni orang yang cerita maklum diantara kami cuma dia yang
pernah kesini sebelumnya. Cerita pertama kejadian di Rawa Embik, dulu
menurut cerita para pendaki yang pernah kesini ada dulu dua pendaki
yang sedang beristirahat sambil menunggu rekannya yang lain turun
dari puncak. Entah sadar atau tidak, salah seorang dari mereka
tiba-tiba bertanya kepada temannya dengan membelakangi “apa kamu
tidak takut ada disini?” . Temannya pun langsung menjawab, “ngapain
takut, kan gak ada apa-apa”. Yang bertanya tadi melontarkan
pertanyaan yang aneh lagi, “apa kamu gak takut kalau ada
penampakan?”. Dijawab lagi dengan santainya “ngapain takut sih,
siang-siang gini mana ada penampakan”. Beberapa saat setelah itu
temannya yang selalu bertanya tersebut mengatakan “apa kamu tidak
takut dengan wajah seperti ini?” (wajah yang rata tanpa ada mata,
hidung, ataupun mulut). Saat itu juga orang yang menjawab-menjawab
pertanyaan itu langsung pingsan dan ketika bangun sudah ada
teman-temannya yang turun dari puncak. Ternyata saat itu temannya
yang diajak ngobrol ikut juga ke puncak dan dia di Rawa Embik
ditemani oleh makhluk halus.
Cerita
yang kedua adalah tentang Puncak Rengganis. Konon di puncak rengganis
ada sebuah istana yang di peruntukkan untuk Dewi Rengganis. Dewi
rengganis sendiri menurut legenda adalah selir kesayangan Raja
Majapahit pada waktu itu. Karena ramalan seorang Empu, bahwa suatu
saat pemerintahan Majapahit akan jatuh ke tangan Dewi Rengganis,
setelah menerima kabar tersebut sang raja akhirnya mengasingkan Dewi
Rengganis ke puncak gunung dan membuatkan istana yang mirip dengan
istana sang dewi sebelum diasingkan. Dan ternyata makam di puncak
tersebut adalah makam Dewi Rengganis serta puing-puing bangunan yang
kami lihat kemungkinan adalah bekas puing istana sang dewi. Wallahu
a’lam. Percaya atau tidak ane kembalikan lagi kepada pembaca
sekalian.
Cerita
selesai kami mempersiapkan untuk turun lagi ke Cisentor untuk
bermalam. Ketika perjalanan turun ke Cisentor gerimis turun lagi,
tapi tidak diikutin hujan lebat. Akhirnya sampai juga di Cisentor,
kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makam malam. Setelah
makan malam dan sholat kami langsung beristirahat untuk menyiapkan
fisik esok hari.
Jujur
saja ketika menulis bagian ini bulu kuduk ane berdiri teringat
saat-saat itu dan cerita mistis tidak berhenti disini, karena di pos
Cikasur akan ada hal yang lebih menarik lagi. Pesan ane, perhatikan
sekeliling anda, siapa tau ada yang ikut membaca cerita ini selain
anda. OK, lanjuuut………
Rabu, 27 Januari 2010 pagi hari entah
pukul berapa di Cisentor. Tubuh mulai terasa capek untuk memulai
aktifitas di hari yang lumayan cerah saat itu. Meskipun capek kami
segera menyiapkan sarapan, menu kali ini masih sama dari yang
sebelumnya mie instan, korned dan teh hangat. Tapi ada yang beda kali
ini, sebelum-sebelumnya kami tidak pernah menyantap sayuran akhirnya
kami bisa makan sayuran di Cisentor. Sayuran yang saya maksud adalah
selada air (Nasturtium
Officinale), selada
air merupakan tanaman yang kaya akan sulfur,
yodium,
dan nitrogen.
Selada
air mempunyai manfaat sebagai obat cacingan dan salah satu pencuci
darah yang baik dan merupakan obat herbal untuk liver dan ginjal,
kayak guru biologi aja ane hehehe ..
Selada air
banyak tumbuh di sekitar sungai yang mengalir disebelah sisi kanan
pos Cisentor. Sambil membunuh waktu kami bermain air dan panen
tanaman tersebut, mumpung gratis. Karena keasikan main sampai lupa
kalau setelah dari Cisentor kami harus melanjutkan ke Cikasur.
Persiapan telah
selesai dan sampah juga sudah bersih, kami mulai untuk melangkah yang
kesekian kalinya. Dengan raut muka yang ceria kami terus menyusuri
jalan setapak yang ada. Lagi-lagi kami harus melewati perbukitan
untuk menuju tujuan selanjutnya. Meskipun harus melewati perbukitan
kami selalu disuguhi oleh keindahan yang belum pernah kami lihat
sebelumnya, mulai dari hutan lindung menuju danau Taman Hidup, hutan
hujan sebelum Cisentor, padang ilalang, kebun Edelweiss,
puncak
yang penuh dengan kemistisan, dan pastinya masih ada lagi keindahan
yang akan kami lihat di perjalanan kedepan.
Ditengah
perjalanan kami bertemu dengan kelompok pendaki lainnya. Ini adalah
pertemuan pertama dengan manusia setelah bertemu dengan nenek ketika
baru berangkat. Saat itulah kami sempatkan untuk istirahat sejenak
dan mengobrol dengan mereka. Dari obrolan itu kami mendapatkan
informasi kalau mereka beranggotakan lima orang dan berasal dari
Tuban. 10 menit beristirahat dan ngobrol dengan kelompok lain, kami
langsung jalan lagi ke pos selanjutnya yang tidak jauh dari tempat
kami istirahat tadi.
Kami mulai
masuk zona hutan lagi, tapi disini banyak pohon yang tumbang dan
terbelah. Entah apa penyebabnya yang jelas ekosistem yang kami lewati
ini rusak. Kami juga harus dengan susah payah melewati pohon-pohon
yang tumbang, sesekali beberapa dari kami terjatuh karena tersandung
dahan ataupun batang pohon yang melintang di jalan setapak. Saya pun
jadi korban pohon yang tumbang tersebut, saat akan melangkahi batang
pohon yang tumbang, saya jatuh dan mengakibatkan luka yang lumayan
parah di bagian lutut dan kaki. Berhenti sejenak untuk mengobati
luka, ternyata kaki saya sudah banyak luka lecet di sela-sela jari
kaki akibat beberapa hari jalan di tengah turunnya hujan.
Masa recovery
selesai, lanjut untuk berjalan lagi. Baru beberapa langkah, saya
melihat sesuatu yang indah diantara tumbangnya pepohonan, yaitu
mekarnya bunga anggrek (Orchidaceae).
Karena begitu indahnya anggrek hidup di alam liar saya
mengabadikannya lewat foto. Setelah keluar dari zona hutan tumbang,
akhirnya kami sampai di padang rumput yang luas dan tertutup kabut.
Jika tidak salah menurut kelompok dari Tuban tadi setelah padang
rumput ini akan melewati satu tanjakan dan akan ketemu dengan
Cikasur.Mumpung masih di padang rumput kami manfaatkan untuk
mengambil foto sebagai dokumen.
Udara semakin
dingin disertai gerimis yang mulai menemani perjalanan kami lagi. Tak
berselang lama akhirnya kami tiba di Cikasur. Pemandangan yang indah
tersaji kembali di lokasi ini. Sesekali terdengar suara ayam hutan di
tengah heningnya suasana saat itu. Kami bergegas untuk menuju pos,
guna mendirikan tenda dan beristirahat. Di Cikasur ini juga ada hal
yang menurut kami aneh, disini ada bangunan menyerupai tembok dan ada
pohon yang terlihat angker, semoga cuma perasaanku saja.
Kami membagi
tim untuk menyiapkan menu makan siang dan tim untuk mendirikan tenda.
Ditempat kami mendirikan tenda ini terdapat tumpukan sampah yang
terbakar. Sedih rasanya lihat seperti itu, ditengah keindahan alam
terdapat tumpukan seperti itu.
Tak terasa
waktu sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB, tenda sudah siap dipakai
tapi makan siang belum siap. Sambil menunggu makan siang, lagi-lagi
kami berfoto-foto, kapan lagi bisa kayak gini. Saat sedang asik ambil
foto hujan turun lagi, kami cepat-cepat menuju pos sebelum hujan
semakin deras. Beberapa menit setelah itu makan siang sudah siap
untuk dilahap, menu kali ini tetap dengan mie instan yang setia kami
nikmati setiap kali makan, selada air rebus, dan segelas susu hangat.
Lokasi makan siang masih di restoran Argopuro dengan tata letak ruang
yang sempurna ciptaan Sang Maha Pencipta.
Hujan masih
terus turun membasahi bumi ini, kabut juga semakin tebal kami
beristirahat di dalam tenda untuk menghangatkan tubuh. Masih dalam
proses penghangatan tubuh, terdengar suara rebut-ribut dari luar
tenda. Teman saya mengecek keadan diluar, ternyata ada rombongan dari
salah satu PA dari salah satu SMK di Probolinggo. Saat itu mereka
melakukan diklat untuk kegiatan pecinta alam di sekolah mereka.
Ketika dilihat-lihat ada sesuatu yang agak lucu, semua anggota diklat
berjalan di tengah hujan yang cukup deras dengan membawa tas
dipunggung dan membawa tabung gas elpiji 3kg tapi sang instruktur
dengan santainya tanpa membawa barang, memakai paying, dan duduk
dengan santai di kursi lipat kecil. Kegiatan diklat tersebut tidak
berlangsung lama, kurang lebih pukul 16.45 WIB mereka sudah kembali
turun ke Baderan lagi.
Terlihat dari
kejauhan seperti ada rombongan lain yang mengarah ke pos. Ketika
sampai di pos mereka adalah rombongan pecinta alam dari Jogjakarta.
Hari yang seru, ketika sebelum-sebelumnya tidak pernah ketemu dengan
rombongan lain sekarang ketemu dengan 3 rombongan dari berbagai
daerah. Rombongan dari Jogja ini berangkat dari Baderan dan turun
dengan rute yang sama.
Hujan sudah reda, sinar matahari mulai tampak
lagi. Ditengah hangatnya suasana sore hari kami mengobrol dan berbagi
informasi dengan mereka yang dari Jogja. Saat itu saya dan beberapa
teman masih sebagai pemula kurang tau seluk beluk pendakian, Cuma
bisa mendengarkan Mas Mujib dan bapak saya ngobrol dengan mereka.
Saat itu mereka juga menceritakan hal mistis yang ada di Cikasur ini.
Menurut cerita mereka di Cikasur ini ada sebuah helipad dan ruang
bawah tanah yang dibangun oleh penjajah Jepang tempo dulu.
Kadang-kadang para pendaki yang bermalam disini pernah tau ada
penampakan, yaitu sekelompok tentara Jepang yang berbaris tanpa
kepala, jika yang ada yang mengetahui atau merasak hal tersebut suara
langkah kaki tentara itu semakin jelas seolah-olah mereka berjalan
mendekati kita. Mereka juga menuturkan kalau tentara Jepang itu
meninggal akibat dibunuh para pejuang di ruang bawah tanah tersebut,
yang mana di ruang bawah tanah itu kerap kali terdengar suara yang
aneh. Letak ruang bawah tanahnya tidak begitu jauh dari kami
mendirikan tenda, kurang lebih 15 meteran dan jarak tenda ke helipad
kurang lebih ada 50 meteran.
Setelah mendengar cerita tersebut, saya dan
beberapa teman bernarsis ria dan meninggalkan bapak saya , Mas Mujib,
dan kelompok yang dari Jogja mengobrol. Selagi masih ada sinar
matahari meskipun sedikit dan mumpung disini kami manfaatkan untuk
berfoto-foto. Hasilnya bisa dilihat dibawah ini:
Tidak terasa hari sudah gelap, kamipun menyiapkan
makan malam dan segera sholat. Rasa kekeluargaan sangat terasa
disini, kami berbaur menjadi satu tanpa memperdulikan asal-usul, ras,
agama, dan status sosial, kami menikmati makan malam yang begitu
harmonis di tengah alam bebas nan hening. Makan malam selesai kami
semua bergegas untuk istirahat guna memulihkan kondisi fisik untuk
perjalanan esok hari menuju Baderan.
Disaat nyenyak tidur, saya merasakan hal yang aneh
entah apa itu. Saat itu sangat gelisah, tidak enak buat lanjutin
tidur lagi. Ketika itu, saya hanya bisa berdo'a semoga tidak terjadi
apa-apa. Waktu semakin berlalu dan jam ditangan juga hampir
menunjukkan pukul 23.00 WIB. Rasa gelisah itu tidak surut akan tetapi
semakin menjadi-jadi. Nah, saat gelisah mencapai puncaknya tak tau
itu imajinasi saja atau gimana tiba-tiba terdengar apa yang
diceritakan oleh teman yang dari Jogja tadi. Jatung semakin cepat
berdetak, keringat dingin mulai menetes dan seluruh badan menjadi
gemetar. Saat kondisi mulai tidak normal, saya mencoba membangunkan
Ahamad. “Mad, kamu denger sesuatu gak?” tanyaku. “Gak denger
apa-apa kok Gar”. Karena khawatir ketika ingin tahu asal suara itu
malah semakin dekat suaranya, saya pun langsung masuk sleeping
bag untuk mencoba tidur lagi tanpa
memperdulikan suara itu dan terus berdo'a. Alhamdulillah suara itu
berangsur-angsur hilang.
Sekilas info. Kasus ini mengingatkanku dengan
cerita yang ada di Gunung Arjuno dengan mitos pasar setannya yang
berada di kawaasan hutan Lalijiwonya. Yang mana ketika tengah malam
akan ada suatu pasar di hutan tersebut yang berisikan para makhluk
halus. Ketika kita mencoba ingin tahu, tanpa sadar kita akan masuk ke
dalam hutan dan tersesat.
Kamis, 28 Januari 2010 di Cikasur. Setelah sholat Subuh kami langsung menghangatkan diri dengan olahraga sebentar di bawah sinar mentari. Olahraga selesai salah satu rekan segera menyiapkan sarapan untuk tim. Menu sarapan kali ini sama seperti dengan menu sebelumnya tapi tanpa kornet dan telur. Akhirnya kenyang juga, kami bergegas berkemas untuk mlanjutkan perjalanan ke Baderan. Kami tidak ingin sampai Baderan terlalu sore karena yang akan dilewati setelah ini beberapa perbukitan serta hutan. Persiapan sudah selesai kami berpamitan dengan rombongan dari Jogja. Selamat tinggal Cikasur beserta cerita mistisnya.
![]() |
| Cikasur pagi hari |
Setelah Cikasur kami akan melewati beberapa pos tetapi tidak bermalam, kami langsung menuju Baderan. Pos-pos tersebut adalah Alun-alun kecil, Mata Air 1, dan Mata Air 2. Kami mulai menuruni bukit dan mengikuti sungai kecil yang ada di sebelah kiri kami. Jalan setapak terus kami susuri dengan semangat untuk mengakhiri perjalanan ini. Akhirnya kami tiba di alun-alun kecil, disini adalah padang rumput yang luas dengan kanan kiri kami tumbuh ilalang. Usai meninggalkan alun-alun kecil kami mulai lagi memasuki hutan, disinilah tingkat kesabaran kami diuji lagi. Bagaimana tidak, seakan-akan jalan yang kami lalui tidak ada habisnya. Kami cuma ditemani pepohonan yang menutupi kami dari panasnya sinar matahari. Jalan yang naik turun, belok kanan dan ke kiri begitu terus. Sampai suatu saat gerimis mulai turun dan kami mulai kelelahan serta rasa bosan yang teramat sangat.
Jalan
semakin licin penuh dengan lumpur. Suasana semakin tidak kondusif,
tapi perjalanan ini harus segera diselesaikan. Akhirnya kami sampai
di Mata Air 1, kami beristirahat sebentar untuk memulihkan kondisi
kami yang mulai drop. Ketika sedang istirahat saya mengecek luka di
kaki akibat terjatuh kemarin, setelah saya cek ternyata lukanya
semakin parah. Saya langsung mencuci kaki untuk menghindari infeksi
lalu segera saya beri betadine dan kain untuk meminimalisir kotoran
yang masuk.
Istirahat
di Mata Air 1 telah selesai, perjalanan kami lanjutkan lagi. Untuk
mengusir kebosananan kami saling mengobrol, bernyanyi. Hal yang tidak
diduga datang, ketika sedang ngobrol ada suara hewan liar entah
dimana tempatnya. Suara itu semakin lama semakin jelas terdengar.
Ketika semakin jelas suara itu seperti suara sekelompok babi hutan.
Kami pun mempercepat langkah kami supaya tidak terjadi hal-hal yang
tidak kami inginkan. Di tengah-tengah perjalanan kami bertemu dengan
polisi hutan, kami pun menanyakan apa benar daerah yang kami lewati
tadi banyak babi hutannya. Ternyata benar, daerah tersebut menjadi
sarang babi hutan. Alhamdulillah saat itu kami tidak sampai dikejar
oleh mereka.
Kebosanan
melanda kami lagi, tak henti-hentinya melewati hutan yang lebat namun
gerimis mulai berhenti. Jalan tetap licin, tidak jarang kami
terpeleset karena banyaknya lumpur di jalan. Tidak berselang lama
akhirnya kami sampai di Mata Air 2, ini tanda kalau sebentar lagi
akan sampai di Baderan.
Keluar dari hutan juga akhirnya. Saat keluar dari hutan kami kira sudah sampai namun tidak demikian, yang ada malah kebun jagung milik warga. Rasa lelah, bosan, putus asa berbaur menjadi satu, tapi saya berkata pada diri sendiri, “Perjalanan sudah sampai disini, aku tidak boleh putus asa”. Jalan yang berliku-liku harus kami lalui setapak-demi setapak. Dengan jalan tertatih-tatih secercah harapan akhirnya muncul, kami mulai memasuki kawasan permukiman.
Syukur
Alhamdulillah akhirnya perjalanan 10 jam dari Cikasur sampai Baderan
telah selesai. Leader kami langsung laporan ke petugas pendakian
setempat, anggota yang lain bergantian bersih diri. Saat menunggu
antrian mandi saya coba untuk membuka luka yang ada di kaki, ternyata
lukanya semakin parah. Setelah mandi saya membersihkan luka dan
mengganti kain kasanya dengan yang baru.
Pukul
18.30 WIB jemputan datang, kami dijemput oleh orang tua dari Pandu,
salah satu rekan kami untuk mampir ke teman beliau yang rumahnya
tidak jauh dari pos Baderan. Benar kata pepatah, kalau rejeki gak
bakal kemana, sudah dijemput kami langsung disuguhi dengan makanan
normal. Nikmatnya makan makanan normal lagi, setelah lima hari cuma
makan mie instan, kornet dan telur. Acara makan malam dan ramah tamah
sudah selesai, kami pun berpamitan untuk pulang ke negara kami
masing-masing. Sebelum itu kami diajak minum kopi dulu di pinggir
jalan daerah Situbondo. Selamat tinggal Argopuro beserta keindahan
alam dan misterinya.
Singkat
cerita ane, bapak ane, adik ane, Mas Habibi, dan Mas Mujib yang
pulang ke Bojonegoro dan Lamongan turun di pinggir jalan daerah
Probolinggo. Pandu pulang ke Blitar dan Rezky diantar pulang ke
Malang. Serta Ahmad sudah dijemput orang tuanya untuk pulang ke
Probolinggo.
| Ini penampkan satpol PP-nya |
Jum’at,
29 Januari 2010 pukul 03.00 WIB dan bis jurusan Surabaya datang. Kami
naik bis yang masih lumayan sepi. Badab terasa sangat capek serta
mata masihngantuk, kami lanjutkan tidur di bis. Tidak tersa bis yang
kami naiki sudah sampai di terminal Bungurasih Surabaya. Kami berlima
naik bis lagi yang ke jurusan Semarang. Bis mulai masuk jalan tol
Surabaya-Gresik. Setelah lima hari di alam bebas tanpa polusi, kali
ini kami menghirup udara yang penuh dengan polusi lagi. Inilah
pilihan dalam hidup.
Kami
berpisah di Lamongan. Mas Mujib dan Mas Habibi turun di terminal,
sedangkan saya beserata bapak dan adik saya lanjut ke Babat. Setelah
sampai Babat kami oper bis yang menuju Bojonegoro. Alhamdulillah
sampai juga di rumah, tas kami turunkan dari punggung. Nah saat
dirumah ada hal aneh terjadi lagi. Saat itu ibu saya bercerita kalau
hari Sabtu, pukul 10.00 WIB ada telepon masuk ke hp ibu saya dengan
nama Pondok Pendakian, ketika diangkat tidak ada suara pun yang
menjawab salam ibu saya. Ibu saya semakin penasaran dan gelisah,
akhirnya dicoba untuk mencari nama Pondok Pendakian di daftar kontak
hp, setelah dicari nama tersebut tidak ada di dalam kontak hp dan
saat itu juga saya bercerita tentang kejadian di Cikasur malam hari.
Wallahu a’lam, dan
itu menjadi sisa misteri dari gunung Argopuro.
Hikmah
yang saya dapat dari perjalan di gunung Argopuro adalah :
·
Kita lestarikan alam di sekitar
kita, dimulai dari diri sendiri.
·
Pendakian ibarat kehidupan, kita
harus melewati segala ujian yang ada, tidak selamanya kita di bawah
dan tidak selamanya kita diatas.
·
Untuk mencapai puncak kita harus
bersusah-susah dahulu, tidak serta merta langsung sukses.
·
Di alam kita akan lebih
menghargai arti kehidupan, kekeluargaan, serta segala macam
ciptaanNya.
·
Kita di dunia ini tidak hidup
sendirian, melainkan ada makhluk yang kasat mata.
·
Dan yang terakhir ketika berada
di alam bebas adalah: (1) tidak meninggalkan apapun selain jejak
kaki, (2) tidak mengambil apapun kecuali gambar/ foto, (3) tidak
membunuh apapun kecuali waktu.
Mohon
maaf kalau ada kesalahan dalam penulisannya. Silahkan berkomentar dan
beri saran untuk menjadi lebih baik kedepannya. Semoga kita bisa bertemu di
kisah selanjutnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar