Kamis, 25 April 2013

Bagian Terakhir dari Sebuah Perjalanan



        Salam lestari bagi para pembaca. Maaf agak terlambat rilisnya. Tanpa pikir panjang kita lanjut di bagian ini. Bagian dimana suasana mistis tersaji. Oh ya, jangan lupa siapkan kopi atau teh sama camilan juga, karena akan panjang ceritanya ini. Langsung kita ke KTP eeee  TKP!!!!!! :D

        Di pos Cisentor ini ada pos dari kayu yang masih ada meskipun sudah terlihat kusam dan banyak coretan tangan-tangan jahil. Sembari menikmati indahnya alam, kami beristrahat memulihkan tenaga serta mengisi perbekalan air minum kami. Botol-botol air minum terisi penuh, perjalanan dimulai lagi. Di pos ini terdapat persimpangan jika ke kiri akan mengantarkan kita ke puncak Rengganis, sedangkan jika kita mengikuti jalur yang kanan kita akan sampai di pos Cikasur.

       Jalur yang menuju puncak mulai terlihat menanjak di selimuti kabut yang mulai turun dari ketinggian. Semak belukar dan pohon-pohon tumbang menjadi pemandangan yang sudah lazim ketika menuju puncak saat itu, apa karena ada badai kemarin pepohonan pada tumbang? Entahlah….

       Menurut cerita rekan kami daerah ini rawan tersesat, hal ini disebabkan karena jalan setapak banyak yang hilang dan tertutup semak-semak. Setelah mendengar keterangan seperti itu, kami putuskan untuk berjalan dengan jarak tidak lebih dari 2 meter. Jalan yang semakin menanjak dan berkelok-kelok kami rasakan, rasa bosan menghampiri kami satu per satu. Perjalanan dari Cisentor menuju puncak memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. 

 
      Waktu sudah menunjukkan pukul 10.20 WIB, akhirnya kami sudah berada di Rawa Embik. Rawa Embik adalah padang rumput yang lumayan luas, disekitarnya ada sungai kecil yang mengalir pelan tapi pasti. Disinilah kami berunding siapa yang berangkat ke puncak dan siapa yang akan menjaga barang-barang. Setelah berunding akhirnya diputuskan yang akan ke puncak Rengganis dan Argopuro adalah saya, adik saya, bapak saya, Ahmad, Rezky dan Pandu sedangkan yang menjaga perbekalan di Rawa Embik adalah Habibi dan Mas Mujib.

     
Setelah semua siap kami berenam melanjutkan perjalanan menuju puncak Rengganis dengan mengikuti jalan setapak yang kali ini terlihat lebih jelas. Setapak demi setapak kami ayunkan akhirnya kami telah sampai di jalan yang berbatu dan dikelilingi oleh tanaman Edelweiss (Javanese Edelweiss). Menurut keterangan Mas Mujib setelah melewati kebun Edelweiss ini kami akan menemukan persimpangan yang menuju ke puncak Rengganis dan puncak Argopuro. Ternyata benar adanya, persimpangan tersebut terlihat dan kami putuskan untuk menuju puncak Rengganis terlebih dahulu. 
 

     Dari persimpangan tersebut menuju puncak Rengganis membutuhkan waktu kurang lebih 20 menitan. Kami terus menanjak untuk mencapai puncak itu dan akhirnya sampailah kami di puncak Rengganis. Tapi cerita tidak berhenti disini, kami berenam sangat kaget seolah tidak percaya apa yang telah kami lihat di depan mata kami. Puncak ini terdapat banyak puing-puing seperti bangunan yang telah roboh, dan adanya batu-batu yang tertata sangat rapi (sumpah ane merinding saat menuliskan cerita ini). Kami terus melangkah untuk terus menuju puncak yang lebih tinggi dari tempat berserakannya puing-puing tadi. 
 
     Tidak berselang lama kami telah sampai di puncak Rengganis, puncak yang luasnya sekitar 20 meter persegi. Dipuncak inilah kami sujud syukur atas berhasilnya mencapai puncak Rengganis. Setelah sujud syukur kami dikagetkan lagi oleh sebuah makam yang hanya berupa setumpuk bebatuan tanpa ada nama yang meninggal disitu. Lazimnya ketika ada seseorang yang meninggal akan ada nama yang meninggal tersebut.
      Setelah puas mengambil foto dan mengabadikan moment ini kami mulai turun untuk menuju puncak yang satunya, yaitu puncak Argopuro. Ketika sampai dipersimpangan, mendung datang lagi, hawa sekitar persimpangan semakin aneh akhirnya kami memutuskan untuk turun lagi ke Rawa Embik dimana dua rekan kami sedang menjaga perbekalan. Sesampainya di Rawa Embik kami mengambil air wudhu di sungai yang mengalir di sisi tempat yang lapang ini. Sholat Dhuhur telah selesai ditunaikan, kami istirahat sejenak untuk makan siang. 


Puncak Rengganis




 
      Singkat cerita ketika kami sedang menikmati mie rebus, Mas Mujib bercerita tentang hal-hal yang terjadi di Rawa Embik dan Puncak Rengganis, lagi-lagi ni orang yang cerita maklum diantara kami cuma dia yang pernah kesini sebelumnya. Cerita pertama kejadian di Rawa Embik, dulu menurut cerita para pendaki yang pernah kesini ada dulu dua pendaki yang sedang beristirahat sambil menunggu rekannya yang lain turun dari puncak. Entah sadar atau tidak, salah seorang dari mereka tiba-tiba bertanya kepada temannya dengan membelakangi “apa kamu tidak takut ada disini?” . Temannya pun langsung menjawab, “ngapain takut, kan gak ada apa-apa”. Yang bertanya tadi melontarkan pertanyaan yang aneh lagi, “apa kamu gak takut kalau ada penampakan?”. Dijawab lagi dengan santainya “ngapain takut sih, siang-siang gini mana ada penampakan”. Beberapa saat setelah itu temannya yang selalu bertanya tersebut mengatakan “apa kamu tidak takut dengan wajah seperti ini?” (wajah yang rata tanpa ada mata, hidung, ataupun mulut). Saat itu juga orang yang menjawab-menjawab pertanyaan itu langsung pingsan dan ketika bangun sudah ada teman-temannya yang turun dari puncak. Ternyata saat itu temannya yang diajak ngobrol ikut juga ke puncak dan dia di Rawa Embik ditemani oleh makhluk halus.

      Cerita yang kedua adalah tentang Puncak Rengganis. Konon di puncak rengganis ada sebuah istana yang di peruntukkan untuk Dewi Rengganis. Dewi rengganis sendiri menurut legenda adalah selir kesayangan Raja Majapahit pada waktu itu. Karena ramalan seorang Empu, bahwa suatu saat pemerintahan Majapahit akan jatuh ke tangan Dewi Rengganis, setelah menerima kabar tersebut sang raja akhirnya mengasingkan Dewi Rengganis ke puncak gunung dan membuatkan istana yang mirip dengan istana sang dewi sebelum diasingkan. Dan ternyata makam di puncak tersebut adalah makam Dewi Rengganis serta puing-puing bangunan yang kami lihat kemungkinan adalah bekas puing istana sang dewi. Wallahu a’lam. Percaya atau tidak ane kembalikan lagi kepada pembaca sekalian.

      Cerita selesai kami mempersiapkan untuk turun lagi ke Cisentor untuk bermalam. Ketika perjalanan turun ke Cisentor gerimis turun lagi, tapi tidak diikutin hujan lebat. Akhirnya sampai juga di Cisentor, kami langsung mendirikan tenda dan menyiapkan makam malam. Setelah makan malam dan sholat kami langsung beristirahat untuk menyiapkan fisik esok hari.
Jujur saja ketika menulis bagian ini bulu kuduk ane berdiri teringat saat-saat itu dan cerita mistis tidak berhenti disini, karena di pos Cikasur akan ada hal yang lebih menarik lagi. Pesan ane, perhatikan sekeliling anda, siapa tau ada yang ikut membaca cerita ini selain anda. OK, lanjuuut………

     Rabu, 27 Januari 2010 pagi hari entah pukul berapa di Cisentor. Tubuh mulai terasa capek untuk memulai aktifitas di hari yang lumayan cerah saat itu. Meskipun capek kami segera menyiapkan sarapan, menu kali ini masih sama dari yang sebelumnya mie instan, korned dan teh hangat. Tapi ada yang beda kali ini, sebelum-sebelumnya kami tidak pernah menyantap sayuran akhirnya kami bisa makan sayuran di Cisentor. Sayuran yang saya maksud adalah selada air (Nasturtium Officinale), selada air merupakan tanaman yang kaya akan sulfur, yodium, dan nitrogen. Selada air mempunyai manfaat sebagai obat cacingan dan salah satu pencuci darah yang baik dan merupakan obat herbal untuk liver dan ginjal, kayak guru biologi aja ane hehehe ..


  Selada air banyak tumbuh di sekitar sungai yang mengalir disebelah sisi kanan pos Cisentor. Sambil membunuh waktu kami bermain air dan panen tanaman tersebut, mumpung gratis. Karena keasikan main sampai lupa kalau setelah dari Cisentor kami harus melanjutkan ke Cikasur.

  Persiapan telah selesai dan sampah juga sudah bersih, kami mulai untuk melangkah yang kesekian kalinya. Dengan raut muka yang ceria kami terus menyusuri jalan setapak yang ada. Lagi-lagi kami harus melewati perbukitan untuk menuju tujuan selanjutnya. Meskipun harus melewati perbukitan kami selalu disuguhi oleh keindahan yang belum pernah kami lihat sebelumnya, mulai dari hutan lindung menuju danau Taman Hidup, hutan hujan sebelum Cisentor, padang ilalang, kebun Edelweiss, puncak yang penuh dengan kemistisan, dan pastinya masih ada lagi keindahan yang akan kami lihat di perjalanan kedepan.

  Ditengah perjalanan kami bertemu dengan kelompok pendaki lainnya. Ini adalah pertemuan pertama dengan manusia setelah bertemu dengan nenek ketika baru berangkat. Saat itulah kami sempatkan untuk istirahat sejenak dan mengobrol dengan mereka. Dari obrolan itu kami mendapatkan informasi kalau mereka beranggotakan lima orang dan berasal dari Tuban. 10 menit beristirahat dan ngobrol dengan kelompok lain, kami langsung jalan lagi ke pos selanjutnya yang tidak jauh dari tempat kami istirahat tadi.

   Kami mulai masuk zona hutan lagi, tapi disini banyak pohon yang tumbang dan terbelah. Entah apa penyebabnya yang jelas ekosistem yang kami lewati ini rusak. Kami juga harus dengan susah payah melewati pohon-pohon yang tumbang, sesekali beberapa dari kami terjatuh karena tersandung dahan ataupun batang pohon yang melintang di jalan setapak. Saya pun jadi korban pohon yang tumbang tersebut, saat akan melangkahi batang pohon yang tumbang, saya jatuh dan mengakibatkan luka yang lumayan parah di bagian lutut dan kaki. Berhenti sejenak untuk mengobati luka, ternyata kaki saya sudah banyak luka lecet di sela-sela jari kaki akibat beberapa hari jalan di tengah turunnya hujan.


   Masa recovery selesai, lanjut untuk berjalan lagi. Baru beberapa langkah, saya melihat sesuatu yang indah diantara tumbangnya pepohonan, yaitu mekarnya bunga anggrek (Orchidaceae). Karena begitu indahnya anggrek hidup di alam liar saya mengabadikannya lewat foto. Setelah keluar dari zona hutan tumbang, akhirnya kami sampai di padang rumput yang luas dan tertutup kabut. Jika tidak salah menurut kelompok dari Tuban tadi setelah padang rumput ini akan melewati satu tanjakan dan akan ketemu dengan Cikasur.Mumpung masih di padang rumput kami manfaatkan untuk mengambil foto sebagai dokumen.

   Udara semakin dingin disertai gerimis yang mulai menemani perjalanan kami lagi. Tak berselang lama akhirnya kami tiba di Cikasur. Pemandangan yang indah tersaji kembali di lokasi ini. Sesekali terdengar suara ayam hutan di tengah heningnya suasana saat itu. Kami bergegas untuk menuju pos, guna mendirikan tenda dan beristirahat. Di Cikasur ini juga ada hal yang menurut kami aneh, disini ada bangunan menyerupai tembok dan ada pohon yang terlihat angker, semoga cuma perasaanku saja.



  Kami membagi tim untuk menyiapkan menu makan siang dan tim untuk mendirikan tenda. Ditempat kami mendirikan tenda ini terdapat tumpukan sampah yang terbakar. Sedih rasanya lihat seperti itu, ditengah keindahan alam terdapat tumpukan seperti itu.

  Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.10 WIB, tenda sudah siap dipakai tapi makan siang belum siap. Sambil menunggu makan siang, lagi-lagi kami berfoto-foto, kapan lagi bisa kayak gini. Saat sedang asik ambil foto hujan turun lagi, kami cepat-cepat menuju pos sebelum hujan semakin deras. Beberapa menit setelah itu makan siang sudah siap untuk dilahap, menu kali ini tetap dengan mie instan yang setia kami nikmati setiap kali makan, selada air rebus, dan segelas susu hangat. Lokasi makan siang masih di restoran Argopuro dengan tata letak ruang yang sempurna ciptaan Sang Maha Pencipta.

   Hujan masih terus turun membasahi bumi ini, kabut juga semakin tebal kami beristirahat di dalam tenda untuk menghangatkan tubuh. Masih dalam proses penghangatan tubuh, terdengar suara rebut-ribut dari luar tenda. Teman saya mengecek keadan diluar, ternyata ada rombongan dari salah satu PA dari salah satu SMK di Probolinggo. Saat itu mereka melakukan diklat untuk kegiatan pecinta alam di sekolah mereka. Ketika dilihat-lihat ada sesuatu yang agak lucu, semua anggota diklat berjalan di tengah hujan yang cukup deras dengan membawa tas dipunggung dan membawa tabung gas elpiji 3kg tapi sang instruktur dengan santainya tanpa membawa barang, memakai paying, dan duduk dengan santai di kursi lipat kecil. Kegiatan diklat tersebut tidak berlangsung lama, kurang lebih pukul 16.45 WIB mereka sudah kembali turun ke Baderan lagi.

   Terlihat dari kejauhan seperti ada rombongan lain yang mengarah ke pos. Ketika sampai di pos mereka adalah rombongan pecinta alam dari Jogjakarta. Hari yang seru, ketika sebelum-sebelumnya tidak pernah ketemu dengan rombongan lain sekarang ketemu dengan 3 rombongan dari berbagai daerah. Rombongan dari Jogja ini berangkat dari Baderan dan turun dengan rute yang sama.

   Hujan sudah reda, sinar matahari mulai tampak lagi. Ditengah hangatnya suasana sore hari kami mengobrol dan berbagi informasi dengan mereka yang dari Jogja. Saat itu saya dan beberapa teman masih sebagai pemula kurang tau seluk beluk pendakian, Cuma bisa mendengarkan Mas Mujib dan bapak saya ngobrol dengan mereka. Saat itu mereka juga menceritakan hal mistis yang ada di Cikasur ini. Menurut cerita mereka di Cikasur ini ada sebuah helipad dan ruang bawah tanah yang dibangun oleh penjajah Jepang tempo dulu. Kadang-kadang para pendaki yang bermalam disini pernah tau ada penampakan, yaitu sekelompok tentara Jepang yang berbaris tanpa kepala, jika yang ada yang mengetahui atau merasak hal tersebut suara langkah kaki tentara itu semakin jelas seolah-olah mereka berjalan mendekati kita. Mereka juga menuturkan kalau tentara Jepang itu meninggal akibat dibunuh para pejuang di ruang bawah tanah tersebut, yang mana di ruang bawah tanah itu kerap kali terdengar suara yang aneh. Letak ruang bawah tanahnya tidak begitu jauh dari kami mendirikan tenda, kurang lebih 15 meteran dan jarak tenda ke helipad kurang lebih ada 50 meteran.

   Setelah mendengar cerita tersebut, saya dan beberapa teman bernarsis ria dan meninggalkan bapak saya , Mas Mujib, dan kelompok yang dari Jogja mengobrol. Selagi masih ada sinar matahari meskipun sedikit dan mumpung disini kami manfaatkan untuk berfoto-foto. Hasilnya bisa dilihat dibawah ini:






   Tidak terasa hari sudah gelap, kamipun menyiapkan makan malam dan segera sholat. Rasa kekeluargaan sangat terasa disini, kami berbaur menjadi satu tanpa memperdulikan asal-usul, ras, agama, dan status sosial, kami menikmati makan malam yang begitu harmonis di tengah alam bebas nan hening. Makan malam selesai kami semua bergegas untuk istirahat guna memulihkan kondisi fisik untuk perjalanan esok hari menuju Baderan.

   Disaat nyenyak tidur, saya merasakan hal yang aneh entah apa itu. Saat itu sangat gelisah, tidak enak buat lanjutin tidur lagi. Ketika itu, saya hanya bisa berdo'a semoga tidak terjadi apa-apa. Waktu semakin berlalu dan jam ditangan juga hampir menunjukkan pukul 23.00 WIB. Rasa gelisah itu tidak surut akan tetapi semakin menjadi-jadi. Nah, saat gelisah mencapai puncaknya tak tau itu imajinasi saja atau gimana tiba-tiba terdengar apa yang diceritakan oleh teman yang dari Jogja tadi. Jatung semakin cepat berdetak, keringat dingin mulai menetes dan seluruh badan menjadi gemetar. Saat kondisi mulai tidak normal, saya mencoba membangunkan Ahamad. “Mad, kamu denger sesuatu gak?” tanyaku. “Gak denger apa-apa kok Gar”. Karena khawatir ketika ingin tahu asal suara itu malah semakin dekat suaranya, saya pun langsung masuk sleeping bag untuk mencoba tidur lagi tanpa memperdulikan suara itu dan terus berdo'a. Alhamdulillah suara itu berangsur-angsur hilang.

   Sekilas info. Kasus ini mengingatkanku dengan cerita yang ada di Gunung Arjuno dengan mitos pasar setannya yang berada di kawaasan hutan Lalijiwonya. Yang mana ketika tengah malam akan ada suatu pasar di hutan tersebut yang berisikan para makhluk halus. Ketika kita mencoba ingin tahu, tanpa sadar kita akan masuk ke dalam hutan dan tersesat.

     
  Kamis, 28 Januari 2010 di Cikasur. Setelah sholat Subuh kami langsung menghangatkan diri dengan olahraga sebentar di bawah sinar mentari. Olahraga selesai salah satu rekan segera menyiapkan sarapan untuk tim. Menu sarapan kali ini sama seperti dengan menu sebelumnya tapi tanpa kornet dan telur. Akhirnya kenyang juga, kami bergegas berkemas untuk mlanjutkan perjalanan ke Baderan. Kami tidak ingin sampai Baderan terlalu sore karena yang akan dilewati setelah ini beberapa perbukitan serta hutan. Persiapan sudah selesai kami berpamitan dengan rombongan dari Jogja. Selamat tinggal Cikasur beserta cerita mistisnya.
      
Cikasur pagi hari



  Setelah Cikasur kami akan melewati beberapa pos tetapi tidak bermalam,  kami langsung menuju Baderan. Pos-pos tersebut adalah Alun-alun kecil, Mata Air 1, dan Mata Air 2. Kami mulai menuruni bukit dan mengikuti sungai kecil yang ada di sebelah kiri kami. Jalan setapak terus kami susuri dengan semangat untuk mengakhiri perjalanan ini. Akhirnya kami tiba di alun-alun kecil, disini adalah padang rumput yang luas dengan kanan kiri kami tumbuh ilalang. Usai meninggalkan alun-alun kecil kami mulai lagi memasuki hutan, disinilah tingkat kesabaran kami diuji lagi. Bagaimana tidak, seakan-akan jalan yang kami lalui tidak ada habisnya. Kami cuma ditemani pepohonan yang menutupi kami dari panasnya sinar matahari. Jalan yang naik turun, belok kanan dan ke kiri begitu terus. Sampai suatu saat gerimis mulai turun dan kami mulai kelelahan serta rasa bosan yang teramat sangat.
      Jalan semakin licin penuh dengan lumpur. Suasana semakin tidak kondusif, tapi perjalanan ini harus segera diselesaikan. Akhirnya kami sampai di Mata Air 1, kami beristirahat sebentar untuk memulihkan kondisi kami yang mulai drop. Ketika sedang istirahat saya mengecek luka di kaki akibat terjatuh kemarin, setelah saya cek ternyata lukanya semakin parah. Saya langsung mencuci kaki untuk menghindari infeksi lalu segera saya beri betadine dan kain untuk meminimalisir kotoran yang masuk.
      Istirahat di Mata Air 1 telah selesai, perjalanan kami lanjutkan lagi. Untuk mengusir kebosananan kami saling mengobrol, bernyanyi. Hal yang tidak diduga datang, ketika sedang ngobrol ada suara hewan liar entah dimana tempatnya. Suara itu semakin lama semakin jelas terdengar. Ketika semakin jelas suara itu seperti suara sekelompok babi hutan. Kami pun mempercepat langkah kami supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan. Di tengah-tengah perjalanan kami bertemu dengan polisi hutan, kami pun menanyakan apa benar daerah yang kami lewati tadi banyak babi hutannya. Ternyata benar, daerah tersebut menjadi sarang babi hutan. Alhamdulillah saat itu kami tidak sampai dikejar oleh mereka.
    Kebosanan melanda kami lagi, tak henti-hentinya melewati hutan yang lebat namun gerimis mulai berhenti. Jalan tetap licin, tidak jarang kami terpeleset karena banyaknya lumpur di jalan. Tidak berselang lama akhirnya kami sampai di Mata Air 2, ini tanda kalau sebentar lagi akan sampai di Baderan.
   
   Keluar dari hutan juga akhirnya. Saat keluar dari hutan kami kira sudah sampai namun tidak demikian, yang ada malah kebun jagung milik warga. Rasa lelah, bosan, putus asa berbaur menjadi satu, tapi saya berkata pada diri sendiri, “Perjalanan sudah sampai disini, aku tidak boleh putus asa”. Jalan yang berliku-liku harus kami lalui setapak-demi setapak. Dengan jalan tertatih-tatih secercah harapan akhirnya muncul, kami mulai memasuki kawasan permukiman.
    Syukur Alhamdulillah akhirnya perjalanan 10 jam dari Cikasur sampai Baderan telah selesai. Leader kami langsung laporan ke petugas pendakian setempat, anggota yang lain bergantian bersih diri. Saat menunggu antrian mandi saya coba untuk membuka luka yang ada di kaki, ternyata lukanya semakin parah. Setelah mandi saya membersihkan luka dan mengganti kain kasanya dengan yang baru.
    Pukul 18.30 WIB jemputan datang, kami dijemput oleh orang tua dari Pandu, salah satu rekan kami untuk mampir ke teman beliau yang rumahnya tidak jauh dari pos Baderan. Benar kata pepatah, kalau rejeki gak bakal kemana, sudah dijemput kami langsung disuguhi dengan makanan normal. Nikmatnya makan makanan normal lagi, setelah lima hari cuma makan mie instan, kornet dan telur. Acara makan malam dan ramah tamah sudah selesai, kami pun berpamitan untuk pulang ke negara kami masing-masing. Sebelum itu kami diajak minum kopi dulu di pinggir jalan daerah Situbondo. Selamat tinggal Argopuro beserta keindahan alam dan misterinya.
    Singkat cerita ane, bapak ane, adik ane, Mas Habibi, dan Mas Mujib yang pulang ke Bojonegoro dan Lamongan turun di pinggir jalan daerah Probolinggo. Pandu pulang ke Blitar dan Rezky diantar  pulang ke Malang. Serta Ahmad sudah dijemput orang tuanya untuk pulang ke Probolinggo.
   
Ini penampkan satpol PP-nya 
Kami berlima (ane, bapak ane, adik ane, Mas Habibi, dan Mas Mujib) terpaksa tidur di pinggir jalan seperti gelandangan yang tidak punya rumah. Kami memilih untuk tidur di pinggir jalan karena biar langsung dapat bis jurusan ke Surabaya. Ada kejadian lucu saat kami sedang tidur di pinggir jalan, ketika tengah malam kami di bangunkan oleh Satpol PP dan mau diamankan oleh mereka, dikira gepeng kali ya. Kami menjelaskan kalau kami sedang menunggu bis jurusan ke Surabaya, akhirnya merka mau mengerti dan membiarkan kami melanjutkan tidur di trotoar.
     Jum’at, 29 Januari 2010 pukul 03.00 WIB dan bis jurusan Surabaya datang. Kami naik bis yang masih lumayan sepi. Badab terasa sangat capek serta mata masihngantuk, kami lanjutkan tidur di bis. Tidak tersa bis yang kami naiki sudah sampai di terminal Bungurasih Surabaya. Kami berlima naik bis lagi yang ke jurusan Semarang. Bis mulai masuk jalan tol Surabaya-Gresik. Setelah lima hari di alam bebas tanpa polusi, kali ini kami menghirup udara yang penuh dengan polusi lagi. Inilah pilihan dalam hidup.
     Kami berpisah di Lamongan. Mas Mujib dan Mas Habibi turun di terminal, sedangkan saya beserata bapak dan adik saya lanjut ke Babat. Setelah sampai Babat kami oper bis yang menuju Bojonegoro. Alhamdulillah sampai juga di rumah, tas kami turunkan dari punggung. Nah saat dirumah ada hal aneh terjadi lagi. Saat itu ibu saya bercerita kalau hari Sabtu, pukul 10.00 WIB ada telepon masuk ke hp ibu saya dengan nama Pondok Pendakian, ketika diangkat tidak ada suara pun yang menjawab salam ibu saya. Ibu saya semakin penasaran dan gelisah, akhirnya dicoba untuk mencari nama Pondok Pendakian di daftar kontak hp, setelah dicari nama tersebut tidak ada di dalam kontak hp dan saat itu juga saya bercerita tentang kejadian di Cikasur malam hari. Wallahu a’lam, dan itu menjadi sisa misteri dari gunung Argopuro.
Hikmah yang saya dapat dari perjalan di gunung Argopuro adalah :
·         Kita lestarikan alam di sekitar kita, dimulai dari diri sendiri.
·         Pendakian ibarat kehidupan, kita harus melewati segala ujian yang ada, tidak selamanya kita di bawah dan tidak selamanya kita diatas.
·         Untuk mencapai puncak kita harus bersusah-susah dahulu, tidak serta merta langsung sukses.
·         Di alam kita akan lebih menghargai arti kehidupan, kekeluargaan, serta segala macam ciptaanNya.
·         Kita di dunia ini tidak hidup sendirian, melainkan ada makhluk yang kasat mata.
·         Dan yang terakhir ketika berada di alam bebas adalah: (1) tidak meninggalkan apapun selain jejak kaki, (2) tidak mengambil apapun kecuali gambar/ foto, (3) tidak membunuh apapun kecuali waktu.
Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penulisannya. Silahkan berkomentar dan beri saran untuk menjadi lebih baik kedepannya. Semoga kita bisa bertemu di kisah selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar