Senin, 25 November 2013

Arung Jeram


Sejarah Singkat Arung Jeram

   Apa yang mengilhami orang untuk berarung jeram? Sebagian mengatakan dapat memberikan pengalaman baru, sebagian lagi mengatakan dapat mengobati kejenuhan beraktivitas sehari-hari dan beberapa orang beranggapan bahwa arung jeram merupakan unjuk keberanian diri dalam menghadapi tantangan. Dengan mengarungi sungai kita akan menikmati sudut pandang yang lain dari keindahan alam. Sungai Alas yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser dengan berbagai flora dan fauna khas aceh, Sungai Citarik yang merupakan aliran sungai dari Taman Nasional Gunung Halimun, Sungai Elo, Serayu dan Progo yang kaya akan kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat, yang sulit utuk kita nikmati di jalur lain.


   Arung Jeram di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak dahulu. Masyarakat tradisional Kalimantan dengan alamnya yang menantang disertai sungainya yang lebar dan sebagian berjeram telah menjadikan arung jeram bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Transportasi yang tersedia hanya melalui sungai yang notabene berjeram, memaksa masyarakat dayak untuk mengarungi jeram demi jalannya aktivitas mereka.
   Di akhir abad ke-XIX, seorang ilmuwan Belanda memimpin sebuah ekspedisi penyusuran sungai Kapuas dan Mahakam di Kalimantan yang sebagian berjeram, dengan menggunakan perahu suku dayak kuno yang terbuat dari kayu dan dengan perlengkapan seadanya. Perjalanan ini memakan waktu hampir satu tahun. Tahun 1994 rute ini dinapak tilasi kembali dengan menggunakan perahu bermotor tradisional Kalimantan (long boat), dan diperlukan waktu 44 hari untuk mengarungi jalur ini.
   Di Negeri Paman Sam arung jeram sebagai olahraga dipelopori oleh Mayor Jhon Wisley, seorang ilmuwan yang memimpin sebuah ekspedisi di sepanjang sungai Colorado, pada tahun 1860. Perahu yang digunakan masih terbuat dari kayu.
Penggunaan perahu karet sebagi sarana berarung jeram dimulai sesudah PD I, dengan menggunakan perahu karet yang sebenarnya diperuntukan untuk militer. Perkembangan selanjutnya membawa kita ke perahu karet Self Bailer yang muncul di tahun 1983. Teknologi ini cukup fenomenal, karena menghapus mimpi buruk para pengarung jeram yang sebelumnya harus menguras perahu setelah memasuki jeram besar, serta mengurangi resiko tenggelam.

Perkembangan arung jeram di Indonesia

Setelah masyarakat dayak kuno, petualangan sungai di Indonesia dilanjutkan diawal 1970-an. Dengan istilah ORAD ( olahraga arus deras ) WANADRI Bandung dan MAPALA UI Jakarta mulai merambah sungai-sungai di Indonesia. Tahun 1975 WANADRI mengadakan lomba arung jeram yang pertama yang dikenal dengan Citarum Rally I, namun sayang pada saat itu masyarakat dikejutkan dengan meninggalnya 5 ( lima ) orang peserta, yang sebelumnya juga diawali dengan meninggalnya 2 ( dua ) orang pada saat latihan.
   Di tahun 1975 juga, MAPALA UI mengadakan ekspedisi pengarungan Sungai Mahakam dan Barito di Kalimantan. Bersama dengan Frank Morgan, seorang petualang dan juga pengacara professional. MAPALA UI juga melaksanakan ekspedisi ke sungai Alas, yang kemudian juga mnimbulkan korban jiwa.
   Perahu dan peralatan yang dipakai juga mulai meningkat kualitasnya. Mulai dari ban dalam kendaraan, perahu LCR militer hingga ke perahu karet khusus sungai ( River raft ) yang didesain khusus untuk jeram. Hal ini mendorong Arung Jeram tumbuh dan berkembang serta menarik minat banyak orang. Pengarungan mulai merambah sungai-sungai yang belum pernah di arungi ( first descent ) .Sungai Mahakam, Barito, Alas, Mamberamo dan Van Der Wall. Sungai Citarik, Cimandiri, Citatih, dan Cimanuk di Jawa Barat. Jawa Tengah memiliki Sungai Progo, Serayu, Elo dan Bogowonto serta tak lupa Jawa timur dengan sungai Pekalen dan Ireng-ireng di lereng Semeru yang cukup menantang. Banyak lagi sungai-sungai di Indonseia yang sangat layak dan menantang untuk diarungi. Seperti sungai Asahan di Sumatera Utara dan sungai Sadang di Sulawesi serta tidak menutup kemungkinan untuk dibukanya sungai-sungai baru untuk diarungi di Indonesia.
   Arung jeram di Indonesia terus berkembang dengan cukup pesat. Namun dalam perkembangannya banyak korban-korban yang berjatuhan. Berikut daftar korban yang berhasil didata sampai saat ini :
1975 7 ( tujuh ) orang Citarum Rally I WANADRI, Bandung
1984 2 ( dua ) orang Kali Progo Palapsi , Yogya
1986 2 ( dua ) orang Sungai Alas MAPALA UI, Jakarta
1990 1 ( satu) orang Sungai Cisadane Makopala,Jakarta
1991 2 ( dua ) orang Kali Progo Wanadri, Bandung
1991 7 ( tujuh) orang Sungai Van Der Wall WANADRI,Bandung
1993 3 ( tiga ) orang Sungai Sadang Imapala, Malang
1994 1 ( satu) orang Sungai Citarum ITB, Bandung
1996 3 ( tiga ) orang Sungai Unda Wisatawan Hongkong
1 ( satu ) orang Sungai Cimanuk Mahasiswa Garut
1 ( satu ) orang Kali Progo Palapsi, Yogya
2001 1 ( satu ) orang Kali Serayu Wisatawan Yogya
1 ( satu ) orang Kali Elo Mahasiswa UPN Yogya
2003 1 ( satu ) orang Kali Serayu Mahasiswa malang
2011 2 ( dua ) orang Kali Progo Wisatawan Semarang
1 ( satu ) orang Kali Elo Mahasiswa UGM Yogya
2012 1 ( satu ) orang Sunagi Cikandang Mahasiswa ITB

Utamakan Selamat

   Diantara olah raga petualangan seperti Mendaki Gunung (Mountaneering), Panjat Tebing (Rock Climbing), dan juga Penyelusuran Gua (Caving), Arung Jeram secara rata-rata dianggap lebih menantang, beresiko dan berbahaya. Hal ini karena Arung Jeram harus menghadapi rintangan alam yang nyata, dan kadang tidak dapat diduga dan datangnya tiba-tiba. Tetapi seorang penulis petualangan kenamaan, William Mc. Ginnes, menyatakan bahwa sebenarnya Arung Jeram tak lebih beresiko dibanding mengemudi di jalan raya. Walu begitu, pengarungan sungai haruslah disesuaikan dengan kemampuan, ketrampilan dan keadaan alam. Karenanya dalam ber-Arung Jeram keselamatan haruslah tetap menjadi pertimbangan utama.
   Sungai berjeram dibagi dalam berbagai tingkat kesulitan (kelas), dari Kelas I (termudah) sampai Kelas VI (tak boleh diarungi). Seperti juga olah raga petualangan lainya Arung Jeram juga memiliki 2 macam bahaya utama ; bahaya dari diri sendiri, termasuk persiapan dan perlengkapan (Subjective Danger) dan bahaya dari alam (Objective Danger). Untuk Arung Jeram, bahaya dari alam terutama adalah sifat dari sungai itu sendiri. Demikian juga perlengkapan, kalau tidak tepat dan kurang lengkap akan menimbulkan bahaya yang nyata (Kecelakaan). Adapun untuk menghindari bahaya dari diri sendiri, seseorang harus berlatih, berlatih dan belajar, baik ketrampilan maupun ilmu-ilmu pendukungnya.

Federasi Arung Jeram Indonesia

   Dengan terus berkembanganya Arung Jeram di Indonesia, para penggiatnya merasa bahwa perlu suatu wadah yang dapat membina kegiatan Arung Jeram dengan lebih terorganisir, memiliki wawasan dan tujuan yang jelas. Pada bulan Maret 1996, oleh 38 Organisasi Pecinta Alam, Klub Arung Jeram Amatir, Profesional dan Komersial, telah dibentuk Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), yang kemudian terpilih menjadi Ketua adalah Amalia Yunita, seorang penjelajah dan petualang handal anggota Aranyacala Universitas Trisakti, yang kini aktif diperusahaan Wisata Arung Jeram PT. Lintas Jeram Nusantara.
   Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) antara lain bertujuan mengembangkan Arung Jeram sebagai olah raga petualangan menjadi olah raga prestasi dan lebih aman, serta meningkatkan sumber daya manusia dibidang Arung Jeram. Dalam program -programnya, FAJI akan membuat pelatihan-pelatihan berjenjang, kejuaraan-kejuaraan dan invitasi, menetapkan norma keselamatan (safety codes), standarisasi peralatan dan teknik, serta upaya-upaya lainnya untuk memasyarakatkan olah raga Arung Jeram. Selain berwawasan olah raga dan petualangan, FAJI juga berwawasan dan memiliki program-program lingkungan, terutama berfokus pada masalah sungai.
   Setelah dipimpin oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Harry Triono tahun 2001-2002, saat ini FAJI diketuai oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) Safzen Nurdin. Pada tahun 2001 PB FAJI telah menjadi bagian dari organisasi rafting internasional (IRF) serta terus melaksanakan upaya konsolidasi dan membentuk Pengda-pengda. Dan pada bulan Oktober 2001, PB FAJI untuk pertama kalinya mengirim tim untuk berlaga di Kejuaraan Internasional yang diselenggarakan IRF. Dan di bulan November 2001, FAJI kembali bekerjasama dengan Korps Marinir dan TSA Komunika menyelenggarakan Kejurnas Arung Jeram II di Sungai Citarum Jawa Barat. Kejurnas II ini diikuti oleh 81 club dari berbagai daerah di Indonesia.
   Beberapa daerah juga menyelenggarakan kompetisi baik tingkat local, nasional maupun Internasional; Asahan White Water Festival 2000, Asahan Race 2001 & 2003, Piala Gubernur Sumut 2001-2, Kejuaraan Arung Jeram Terbuka Rongkong 2004, LACi I & 2 Jawa Barat 2004 dsb. Hal ini menandai semakin maraknya kompetisi arung jeram di Indonesia.
   Sejak banjir pertama kali melanda Jakarta, 29 Januari 2002, FAJI bergabung bersama Korps Marinir, ORARI, Indonesia Offroad Federation, KSR UKI, kelompok pencinta alam se-Jakarta, ikut serta dalam upaya evaluasi korban banjir . Pada saat pasca banjir PB FAJI memfasilitasi sekretariat POSKO SIAGA BANJIR ARUNG JERAM PEDULI dengan misi utama siaga evakuasi korban banjir dan distribusi logistik di tempat yang sulit dijangkau dengan menggunakan perahu karet atau kendaraan 4 X 4. Dalam penanganan bencana Tsunami di Aceh - Nias, FAJI bergabung dengan Global Rescue Network (GRN) dalam melakukan tugas kemanusiaan Operasi Pesisir Barat Aceh Nias.
   Saat ini Pengurus Besar FAJI telah memiliki perwakilan di 10 propinsi dan di tahun 2005 ini diharapkan bertambah menjadi 15 Pengda. Untuk publikasi FAJI telah menerbitkan Majalah Kegiatan Alam Terbuka JELAJAH, yang menuliskan tidak saja kegiatan Arung Jeram juga kegiatan alam terbuka lainnya, dan meluncurkan web site http://www.faji.org.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar